GERAK.ID (Editorial) – Banyak orang mengira tantrum hanya terjadi pada anak kecil. Faktanya, tantrum juga bisa dialami oleh remaja, bahkan orang dewasa.
Bentuknya memang berbeda, tetapi intinya tetap sama: ledakan emosi yang muncul karena ketidakmampuan mengelola stres, frustrasi, atau rasa kecewa yang intens.
Pada usia remaja dan dewasa, tantrum bisa berupa teriakan, banting barang, diam membatu, hingga tindakan impulsif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Mengutip sejumlah sumber, tantrum pada remaja sering dipicu oleh perubahan hormon, tekanan dari lingkungan sosial, atau ekspektasi yang tinggi dari orang tua dan sekolah. Di masa ini, mereka sedang mencari jati diri dan kerap kali belum memiliki keterampilan emosional yang matang.
Ketika perasaan tidak dimengerti atau tidak didengar, emosi mudah meluap dalam bentuk yang ekstrem. Tantrum ini kadang dianggap sebagai sikap “manja” atau “drama,” padahal sebenarnya ada luka atau konflik batin yang belum selesai.
Pada orang dewasa, tantrum bisa jauh lebih kompleks. Tidak jarang ledakan emosi tersebut berasal dari akumulasi tekanan hidup, pekerjaan yang melelahkan, relasi yang toxic, atau luka masa lalu yang tidak pernah disembuhkan.
Perilaku seperti membentak pasangan, merusak barang, atau bahkan menyalahkan diri sendiri berlebihan adalah bentuk tantrum yang sering tidak disadari.
Bedanya dengan anak kecil, orang dewasa biasanya merasa malu setelahnya, tetapi tetap kesulitan untuk menghentikan siklus tersebut.
Menangani tantrum pada remaja dan dewasa tidak semudah menyuruh mereka “tenang saja.” Perlu ada pemahaman yang mendalam tentang latar belakang emosinya.
Salah satu langkah penting adalah belajar mengenali pemicu emosi, melatih cara berkomunikasi yang sehat, dan mencari bantuan profesional jika perlu.
Emosi yang meledak bukan tanda lemah, tapi alarm bahwa ada hal dalam diri yang sedang bergejolak dan butuh perhatian lebih.
Remaja dan orang dewasa berhak untuk marah, kecewa, atau sedih. Namun, belajar mengekspresikan emosi dengan cara yang tidak merusak adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang matang.
Dunia memang tak selalu adil, tapi bagaimana kita meresponsnya bisa menentukan kesehatan mental kita ke depan. Tantrum bukan aib, tapi pertanda ada ruang untuk tumbuh dan menyembuhkan diri.
Leave a Reply
View Comments